Dinkes Kaltim Arahkan Konselor Sebaya Kutim Mengenai Pencegahan HIV

Divisi.id – Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Setyo Budi Basuki, memberikan arahan kepada Konselor Sebaya Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terkait langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit HIV.

“Pada kesempatan ini, kami menjelaskan kebijakan HIV Provinsi Kaltim, yang meliputi strategi eliminasi HIV, pelayanan kesehatan bagi populasi berisiko, dan koordinasi lintas sektor dan kabupaten,” ucap Basuki saat mengisi materi pada Pelatihan Konselor Sebaya pada Populasi Berisiko Tahun 2023 diselenggarakan oleh Dinkes Kabupaten Kutim di Samarinda, Kamis (09/11/2023).

Basuki yang juga merupakan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim menyampaikan bahwa HIV dapat menular melalui darah, cairan vagina, sperma, cairan dubur, dan ASI.

Ia mengingatkan tentang potensi penularan melalui hubungan seksual tanpa kondom, transfusi darah yang tidak aman, penggunaan jarum suntik bersama, serta ibu hamil atau menyusui yang terinfeksi HIV.

Basuki juga mengajak masyarakat untuk selalu menjaga perilaku sehat dan bertanggung jawab.

“Kita harus menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV, karena mereka juga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan manusiawi,” tekannya.

Basuki mendorong konselor dan tenaga kesehatan Puskesmas untuk bekerja sama dalam pencegahan kasus baru dengan melakukan pemeriksaan dan pengobatan rutin, serta memberikan edukasi tentang cara penularan dan pencegahan HIV.

“Orang yang hidup dengan HIV bisa memiliki harapan hidup yang sama dengan orang sehat, asalkan mereka minum obat antiretroviral (ARV) sesuai dengan ketentuan dan menjaga pola hidup sehat,” terangnya.

Ia juga berbagi informasi tentang upaya Dinkes Kaltim dalam sosialisasi dan edukasi tentang HIV/AIDS, khususnya di kalangan rentan seperti pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik, dan lelaki seks lelaki.

“Kami juga memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), termasuk pemberian obat antiretroviral (ARV) yang dapat menekan virus HIV di dalam tubuh sehingga tidak menular ke orang lain dan tidak mengganggu kualitas hidup ODHA,” bebernya.

Data Dinkes Kaltim menunjukkan bahwa dari 5.000 kasus HIV di Provinsi Kaltim, 21 persen di antaranya telah tersupresi, menandakan tingkat rendahnya virus HIV di tubuh mereka.

“Untuk bisa tersupresi, ODHA harus minum obat ARV secara teratur sesuai anjuran dokter dan melakukan pemeriksaan viral load secara berkala untuk mengetahui jumlah virus HIV di dalam tubuh mereka,” katanya.

Kemudian, Sub Koordinator Surveilans dan Imunisasi Dinkes Kutim, Lely Pembriani menjelaskan bahwa mereka memfasilitasi pelatihan konselor sebaya pada populasi berisiko untuk meningkatkan jumlah konselor yang dapat memberikan dukungan dan motivasi kepada kelompok berisiko di masyarakat.

“Konselor sebaya yang dilibatkan orang yang memiliki latar belakang, pengalaman, atau karakteristik yang sama dengan populasi berisiko, sehingga dapat memberikan konseling, dukungan, dan motivasi kepada mereka untuk tidak melakukan perilaku berisiko dan menerapkan hidup sehat,” jelas Lely selaku ketua pelaksana.

Meskipun demikian, jumlah konselor sebaya di Kutim masih terbatas, dengan hanya 34 orang sementara jumlah kasus HIV mencapai 385 orang.

“Dengan jumlah kasus tersebut, maka penambahan jumlah konselor sebaya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kutim,” bebernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *