
Divisi.id – Stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi setelah lahir, tetapi juga dapat dimulai sejak dalam kandungan seperti bayi dengan berat lahir rendah atau panjang badan di bawah standar dapat dikategorikan sebagai stunting sejak kelahirannya.
“Bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram atau panjang badan di bawah 48 cm bisa masuk kategori stunting. Ini menunjukkan, masalah gizi sebenarnya sudah dimulai sejak dalam kandungan. Oleh karena itu, masa 1.000 hari pertama kehidupan terhitung sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun menjadi sangat penting untuk diperhatikan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim), Dr. dr. H. Jaya Mualimin.
Dr. Jaya menambahkan, pola makan dan kebiasaan ibu selama kehamilan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan janin.
Ibu yang kurang mengonsumsi makanan bergizi atau memiliki kebiasaan merokok, misalnya, dapat mempengaruhi berat dan panjang badan bayi saat lahir.
“Ibu hamil yang merokok beresiko melahirkan bayi dengan pertumbuhan janin yang tidak optimal. Ketika bayi lahir, beratnya bisa kurang dari 2.500 gram, yang langsung masuk kategori stunting. Maka dari itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk menjaga pola makan dan kebiasaan hidup sehat,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan, pengukuran berat dan panjang bayi saat lahir menjadi indikator awal untuk mendeteksi risiko stunting.
Jika ditemukan berat atau panjang bayi yang kurang dari standar, intervensi gizi harus segera dilakukan agar pertumbuhan bayi dapat dikejar selama 1.000 hari pertama kehidupannya.
“Masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, atau 1.000 hari pertama kehidupan, adalah masa krusial. Inilah mengapa pengukuran saat lahir sangat penting sebagai langkah awal memantau risiko stunting,” tambahnya.
Setelah melewati usia dua tahun, faktor lingkungan mulai memainkan peran yang lebih besar. Hal ini membuat intervensi pada 1.000 hari pertama menjadi semakin mendesak, karena pertumbuhan anak setelah itu lebih sulit diubah.
“Setelah melewati usia lima tahun, stunting biasanya tidak diukur lagi dalam survei karena faktor genetik juga mulai terlihat. Namun, jika di masa awal kehidupannya sudah mengalami stunting, maka dampaknya bisa berlanjut sepanjang hidup,” jelas Dr. Jaya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan memperhatikan asupan gizi ibu hamil.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memastikan berat badan dan panjang badan bayi yang lahir sesuai standar, agar risiko stunting dapat diminimalkan.
“Kami berharap kesadaran masyarakat meningkat, khususnya bagi ibu hamil untuk menjaga asupan gizi mereka. Dengan deteksi dini dan langkah pencegahan yang tepat, kita bisa menekan angka stunting di Kalimantan Timur dan memastikan anak-anak kita tumbuh sehat dan optimal,” tutupnya.