160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Iklan

Sungai Mahakam dan Manusia yang Menjaga Nadi Kehidupan dari Hulu

Sungai Mahakam, Antara Alam dan Manusia (istimewa)
750 x 100 AD PLACEMENT

Divisi.id – Sungai Mahakam merupakan sungai terpanjang dan terpenting di Kalimantan Timur. Mengalir lebih dari 900 kilometer dari pedalaman hingga pesisir, Mahakam bukan sekadar bentang alam, melainkan urat nadi yang membentuk peradaban, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitarnya. Sejak lama, sungai ini menjadi jalur transportasi utama, sumber air, ruang hidup nelayan, sekaligus penopang ekosistem yang menghidupi ribuan spesies flora dan fauna.

Bagi masyarakat Kalimantan Timur, Mahakam adalah sumber kehidupan yang tak tergantikan. Di sepanjang alirannya, tumbuh permukiman, pasar tradisional, aktivitas perikanan, hingga tradisi budaya yang diwariskan lintas generasi. Namun, perubahan lanskap dan tekanan pembangunan membuat fungsi ekologis sungai perlahan mengalami degradasi. Kualitas air menurun, sedimentasi meningkat, dan ketergantungan manusia terhadap sungai kerap tidak diimbangi dengan upaya perlindungan yang memadai.

Dalam konteks itu, kondisi hulu Sungai Mahakam menjadi faktor penentu keberlangsungan sungai secara keseluruhan. Hutan, rawa gambut, dan kawasan resapan air di hulu berperan sebagai pengatur alami aliran sungai. Ketika kawasan ini rusak, dampaknya akan dirasakan hingga ke wilayah hilir mulai dari banjir, kekeringan, hingga menurunnya hasil tangkapan ikan.

Salah satu wilayah hulu yang memiliki peran penting adalah Desa Genting Tanah, Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa ini dikelilingi hutan rawa gambut yang selama ini menjadi penyangga utama Sungai Mahakam. Bagi warga setempat, hutan bukan hanya latar belakang kehidupan, melainkan fondasi yang menentukan keberlanjutan desa dan sungai.

“Hutan kami ini adalah hutan rawa gambut. Jangan salah, kedalaman gambutnya bisa sampai tujuh meter,” ujar Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Genting Tanah, Anton Suparto, dikutip langsung dari TimesIndonesia.co.id. Pada dasarnya ketebalan gambut ini berfungsi menyimpan air dalam jumlah besar dan melepaskannya secara perlahan, sehingga menjaga kestabilan Sungai Mahakam sepanjang musim.

Kesadaran warga untuk menjaga hutan lahir dari pengalaman langsung menghadapi ancaman kerusakan lingkungan. Warga menyadari bahwa hilangnya hutan berarti hilangnya sumber air, rusaknya ekosistem sungai, dan terancamnya mata pencaharian masyarakat di hilir. Dari kesadaran kolektif tersebut, warga berjuang memperoleh pengakuan hutan desa, yang akhirnya disahkan melalui Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2020.

Sejak saat itu, pengelolaan hutan dilakukan dengan aturan ketat dan berbasis kesepakatan bersama. Pembukaan lahan dibatasi agar kawasan inti tetap terlindungi dan fungsi ekologis hutan tetap terjaga. Langkah ini tidak hanya berdampak bagi warga Genting Tanah, tetapi juga bagi masyarakat yang hidup di sepanjang Sungai Mahakam.

Anton Suparto menegaskan keterkaitan hutan dan sungai tersebut. “Hutan yang terjaga dengan baik akan menjadi sumber pakan utama ikan, sehingga nelayan punya hasil tangkap yang terus melimpah,” katanya.

Di tengah laju pembangunan Kalimantan Timur, kisah Genting Tanah menjadi pengingat bahwa Sungai Mahakam tidak hanya membutuhkan perhatian di wilayah hilir. Masa depan sungai ini ditentukan oleh pilihan manusia di hulunya: menjaga alam sebagai nadi kehidupan, atau mengabaikannya dan menanggung dampaknya bersama.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terbaru
930 x 180 AD PLACEMENT