160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Iklan

Dana Bagi Hasil Belum Jelas, Fiskal Kaltim Tertekan Akibat Pengurangan 71%

Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud.
750 x 100 AD PLACEMENT

Divisi.id – Dana Bagi Hasil (DBH) kembali menjadi sorotan setelah pemerintah pusat disebut belum memberikan kepastian terkait besaran alokasi untuk Kalimantan Timur. Situasi ini menambah tekanan fiskal daerah yang tahun ini mengalami penurunan dana transfer hingga 71 persen.

Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, menjelaskan bahwa DBH menjadi perhatian utama karena masyarakat adat sempat mempertanyakan kejelasan penyaluran dana tersebut. Namun hingga kini, hasil final dari pemerintah pusat belum diterima daerah.

“Yang DBH kemarin dari masyarakat adat, ini yang menempelkan DBH dari pusat itu sudah sampai di rumah?” ujar Hasanuddin dalam sesi wawancara.

Ia menyampaikan bahwa beberapa fraksi di DPRD sempat membahas DBH, tetapi dirinya tidak ikut rapat saat itu karena sedang berada di luar kota. Meski begitu, ia mengetahui bahwa DPRD memperjuangkan agar DBH tidak mengalami pemotongan.

“Kemarin DBH dari apa ya… fraksi ya kalau nggak salah. Saya kebetulan nggak ikut itu, saya di luar kota. Hasilnya saya belum tahu juga,” katanya.

Hasanuddin menegaskan bahwa secara pribadi ia menilai perjuangan untuk mempertahankan DBH sepenuhnya tanpa pemotongan bukan perkara mudah. Sebab skema DBH adalah skema nasional, sehingga seluruh provinsi menjadi bagian dari kebijakan bersama.

“Yang jelasnya, mereka memperjuangkan DBH supaya tidak ada pemotongan. Tapi menurut pendapat saya pribadi, agak susah karena DBH itu kan nasional, bukan hanya Kaltim,” jelasnya.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam. Melalui organisasi kepala daerah se-Indonesia, yakni APPSI, berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan pemerintah pusat agar tidak mengurangi porsi DBH ke daerah.

“Tapi upaya pemerintah juga sudah berjalan melalui ketua APPSI. Kita tunggu saja,” ucapnya.

Di tengah ketidakpastian DBH, Kalimantan Timur menghadapi penurunan dana transfer yang sangat tajam. Hasanuddin mengatakan bahwa dana transfer dari pusat turun hampir 71 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Yang jelas hari ini kita ada pengurangan hampir 71% untuk dana transfer,” ungkapnya.

Penurunan tersebut membuat pemerintah provinsi harus merombak total struktur APBD 2026. DBH yang biasanya menjadi salah satu penopang fiskal daerah kini tidak bisa lagi dijadikan asumsi pasti.

“Sehingga ada kurang 6,135 triliun dari 2021,” katanya menambahkan.

Hasanuddin menegaskan bahwa DPRD dan pemerintah daerah masih menunggu kepastian resmi dari pusat. Keputusan final mengenai DBH akan sangat menentukan ruang fiskal Kalimantan Timur tahun depan.

“Kita tunggu kepastian dari pusat, karena itu akan menentukan banyak hal dalam APBD,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah pusat mempertimbangkan kondisi daerah penghasil seperti Kaltim yang selama ini memberikan kontribusi besar bagi pendapatan nasional. Menurutnya, DBH seharusnya menjadi instrumen yang menjamin keadilan fiskal.

“Kita hanya berharap pusat bisa melihat kontribusi daerah. DBH ini soal keadilan juga,” pungkasnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terbaru
930 x 180 AD PLACEMENT