
Divisi.id — Anggota DPRD Kalimantan Timur, Sabaruddin Panrecalle kembali menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosper) ke-5 bersama Pemerintah Daerah terkait Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Kegiatan tersebut berlangsung di Jalan Mayjend Soetoyo RT 39, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan yang dihadiri masyarakat setempat itu menghadirkan narasumber dari Kesbangpol Balikpapan, Muhammad Bayu Septian dan tokoh masyarakat sekaligus kader Partai Gerindra, Suriansyah. Acara dipandu moderator Aprianti Tri Lutfiana.
Dalam sambutannya, Sabaruddin Panrecalle menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan menjadi hal penting di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang memengaruhi pola pikir generasi muda. Menurutnya, Perda Nomor 9 Tahun 2023 hadir sebagai landasan untuk memperkuat karakter kebangsaan masyarakat.
“Pancasila bukan hanya hafalan, tetapi harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Kita ingin generasi muda memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat agar tidak mudah terpengaruh paham yang bertentangan dengan nilai persatuan,” ujar Sabaruddin.
Ia juga menilai pendidikan Pancasila harus diterapkan tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan budaya. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan agar nilai gotong royong, toleransi, dan persatuan tetap terjaga.
“Kalau wawasan kebangsaan kita lemah, maka persatuan bangsa juga bisa terancam. Karena itu, sosialisasi perda seperti ini penting agar masyarakat memahami perannya dalam menjaga keutuhan NKRI,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Bayu Septian dari Kesbangpol Balikpapan menjelaskan bahwa Perda Nomor 9 Tahun 2023 menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam memperkuat pendidikan karakter berbasis Pancasila. Ia menyebut tantangan sosial saat ini membutuhkan perhatian serius, terutama terkait pengaruh media sosial terhadap pola pikir generasi muda.
“Kita melihat perkembangan zaman begitu cepat. Karena itu pendidikan Pancasila harus terus diperkuat agar masyarakat, khususnya anak muda, memiliki filter terhadap informasi yang dapat memecah persatuan,” jelas Bayu.
Menurutnya, wawasan kebangsaan harus dibangun sejak dini melalui pendidikan formal maupun nonformal. Ia menambahkan bahwa semangat toleransi dan cinta tanah air menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas sosial di daerah.
“Perbedaan adalah kekuatan bangsa Indonesia. Melalui pemahaman Pancasila, masyarakat diharapkan mampu menjaga kerukunan dan menghormati keberagaman,” tambahnya.
Narasumber lainnya, Suriansyah, menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila harus menjadi budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menilai saat ini masih banyak generasi muda yang mulai melupakan pentingnya etika, sopan santun, dan rasa nasionalisme.
“Pancasila harus hidup dalam tindakan sehari-hari, bukan hanya slogan. Mulai dari menghormati sesama, menjaga persatuan, hingga peduli terhadap lingkungan sekitar,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi isu-isu yang dapat memecah belah bangsa.
“Kalau masyarakat memiliki pemahaman kebangsaan yang baik, maka potensi konflik sosial bisa diminimalisir. Ini menjadi tanggung jawab bersama,” tutup Suriansyah.