
Divisi.id – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pariwisata (Dispar) terus memprioritaskan pengembangan desa wisata sebagai strategi memperluas destinasi unggulan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.
Plt Kepala Dispar Kukar, Arianto, menyebut bahwa keberhasilan desa wisata sangat ditentukan oleh tiga pilar utama: potensi daya tarik wisata, pengelolaan yang baik oleh kelompok penggerak seperti Pokdarwis, serta dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah desa.
“Tidak cukup hanya memiliki potensi wisata. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan komitmen dari pemerintahan desa, pengembangan desa wisata akan sulit berkembang,” ujar Arianto.
Sejak 2012 hingga 2013, sebanyak 10 desa telah ditetapkan sebagai desa wisata melalui SK Bupati Kukar. Langkah ini diperkuat pada 2013–2015 dengan penerapan konsep desa mandiri, yang turut mencakup sektor pariwisata selain ketahanan pangan dan pendidikan.
Beberapa desa yang menunjukkan perkembangan positif antara lain Desa Kedang Ipil dengan potensi budaya dan wisata alam seperti air terjun, serta Desa Pela yang mengusung ekowisata berbasis konservasi lingkungan. selain itu ada pula Desa Sangkuliman yang tengah fokus pada pelestarian alam, serta desa lainnya seperti Loa Kulu, Long Anai, dan Batuah yang telah masuk dalam daftar resmi desa wisata.
Meski demikian, Arianto mengakui bahwa tidak semua desa mengalami perkembangan yang sama cepat. Permasalahan infrastruktur, promosi, dan kapasitas pengelolaan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui pendampingan intensif dari pemerintah daerah.
“Peran pemerintah adalah memfasilitasi dan mendampingi. Tapi aktor utama tetap masyarakat. Jika ada kendala, kami siap turun tangan mencari solusi bersama,” tegasnya.
Untuk memperkuat sektor ini, Dispar Kukar juga mendorong munculnya destinasi baru seperti Taman Gubang di Tenggarong Seberang, Batu Goa Gelap di Desa Suka Maju, dan sentra madu kelulut di kawasan yang sama. Selain itu, dukungan terhadap pelaku ekonomi kreatif juga diberikan, seperti bantuan alat produksi es batu kristal guna menunjang sektor kuliner wisata.
Arianto menambahkan bahwa dengan tumbuhnya desa wisata, Kukar tidak lagi harus bergantung pada destinasi besar seperti Pulau Kumala, Waduk Panji Sukarame, atau Museum Mulawarman. Sebaliknya, keberagaman destinasi akan memperkaya pilihan wisatawan dan memperluas dampak ekonomi ke desa-desa.
“Jika desa wisata tumbuh dan dikelola dengan baik, maka Kukar punya peluang besar untuk menjadi pusat wisata unggulan di Kalimantan Timur,” pungkasnya.