
Divisi.id – Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) mengakui, kurangnya tenaga ahli psikologi klinis menjadi tantangan dalam menangani tingginya angka depresi di kalangan remaja.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kaltim, dr. Ika Gladies Syaferani, menyebutkan bahwa psikolog klinis di Kaltim masih terkonsentrasi di kota besar dan provinsi.
Sementara itu, daerah-daerah terpencil belum memiliki akses memadai terhadap layanan kesehatan jiwa.
“Psikolog klinis kita sangat terbatas. Untuk itu, tenaga kesehatan di puskesmas dilatih memberikan konseling dasar sebagai langkah awal,” ujar dr. Ika, Senin (18/11/2024).
Selain tenaga ahli, sosialisasi dan skrining menjadi fokus utama Dinkes dalam menekan prevalensi depresi. Skrining dilakukan secara bertahap, terutama di kalangan remaja, menggunakan aplikasi Sijiwa.
Namun, untuk pengobatan atau konseling lanjutan, keterbatasan psikolog klinis kerap menjadi hambatan.
“Saat ini, kami terus mendorong upaya pelatihan dan edukasi agar tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan tingkat pertama (FKTP) dapat memberikan layanan konseling yang memadai,” jelasnya.
Menurut dr. Ika, masyarakat juga perlu lebih terbuka terhadap isu kesehatan jiwa dan menghilangkan stigma yang sering melekat.
“Harapan kami, kesehatan jiwa bisa menjadi prioritas, sama seperti kesehatan fisik,” pungkasnya.