160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Iklan

Dari Sekda Hingga Direktur RS: Perempuan Bersinar di Eksekutif, Memudar di Parlemen

Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Damayanti.
750 x 100 AD PLACEMENT

Divisi.id – Di tengah semaraknya peningkatan peran perempuan dalam birokrasi pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur, justru ironi mencuat dari gedung parlemen. Alih-alih tumbuh seiring semangat kesetaraan, representasi perempuan di DPRD Kaltim justru menurun pada periode legislatif terbaru.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti, menyuarakan keprihatinannya atas tren ini. Ia menilai bahwa meskipun Pemprov Kaltim telah memberikan ruang strategis kepada perempuan dalam struktur eksekutif, namun hal tersebut belum tercermin di parlemen yang menjadi wadah pengambilan keputusan rakyat.

“Kalau kita melihat komposisi perempuan di jajaran Pemprov Kaltim saat ini, saya rasa itu luar biasa. Beberapa posisi strategis justru dipegang oleh perempuan,” kata Damayanti, beberapa waktu lalu.

Ia kemudian menyebut sejumlah nama perempuan yang kini menduduki jabatan penting di pemerintahan, mulai dari Sekretaris DPRD Kaltim, Nurhayati Usman; Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni; hingga pimpinan rumah sakit besar seperti dr. Indah Puspitasari dan drg. Shanty Sintessa Wulaningrum.

“Bu Sri Wahyuni sebagai Sekdaprov, itu jabatan tertinggi dalam birokrasi provinsi. Itu menunjukkan perempuan bisa dipercaya, bisa memimpin, dan bisa memberi warna di pemerintahan,” ujar Damayanti menegaskan.

Namun, di sisi lain, angka justru berkata lain di DPRD. Dari yang semula delapan legislator perempuan pada periode 2019–2024, kini hanya tujuh perempuan yang berhasil lolos ke kursi parlemen. Kondisi ini dinilai Damayanti sebagai sebuah kemunduran dalam perjuangan politik perempuan.

“Khusus di Dapil Balikpapan, sebelumnya ada dua legislator perempuan. Tapi sekarang hanya satu yang lolos. Sendirian,” ucapnya..

Ia menekankan bahwa berkurangnya jumlah bukan sekadar statistik, melainkan berimbas pada berkurangnya suara dan perspektif perempuan dalam perumusan kebijakan. Tterutama yang menyangkut isu-isu strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

“Suara perempuan di legislatif jadi kurang gaung. Padahal kita tahu, banyak isu strategis kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial yang membutuhkan perspektif perempuan,” ujar Damayanti.

Meski begitu, ia tetap memberi apresiasi kepada tujuh legislator perempuan yang berhasil lolos pada periode ini. Menurutnya, perjuangan mereka tak ringan, dan keberhasilan itu adalah hasil dari kepercayaan yang tidak mudah diperoleh.

“Saya tetap apresiasi. Ini bukan hal yang mudah. Mereka mendapat kepercayaan dari masyarakat, dari keluarga, dari suami. Itu bukan perjuangan ringan,” ujarnya.

Damayanti berharap keterbatasan jumlah tidak menghalangi kekuatan kolektif perempuan di DPRD Kaltim. Ia menekankan pentingnya saling mendukung dan menguatkan agar para legislator perempuan mampu menunjukkan kapasitasnya, meski berasal dari latar belakang yang beragam.

“Jumlah bukan segalanya, tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa semakin banyak perempuan di parlemen, semakin kuat pula keberpihakan pada isu-isu yang menyangkut separuh populasi bangsa ini,” pungkasnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terbaru
930 x 180 AD PLACEMENT